![]() |
| (dok. Emma Wijaya, personil Srimulat; Kirun, Kadir, dan Tessi) |
Kendal, Inspiratif.online - Di belakang GOR Bahurekso Kendal tempat gegap gempita peringatan Harlah ke-79 Muslimat NU berpendar dalam warna hijau dan sorak saya justru menemukan panggung lain yang lebih kecil, lebih intim, dan justru lebih jujur: panggung para legenda yang hari ini duduk tenang sambil menyeruput kopi hitam.
Saya ingat betul titik mulanya: seorang laki-laki tua berpeci, rambutnya memutih, mengenakan koko marun-putih. Ia memesan kopi hitam tanpa gula. “Ini untuk Abah kok, Mbah,” ucapnya ketika saya menawarkan gelas alih-alih cup plastik. Baru saya sadari, kopi itu untuk Kirun sosok yang dulu muncul hampir setiap akhir pekan di layar kaca keluarga-keluarga Jawa, kini menempuh jalur dakwah dan menjadi pembicara utama hari itu.
Di seberang warung kecil tempat saya membantu kawan berjualan, kerumunan mulai mengeras. Ada tiga laki-laki berbaju biru senada duduk di kursi plastik. Sekali menoleh, saya langsung mengenali Kirun dan Kadir di sana. Yang ketiga sempat mengundang tanya, apalagi orang-orang sibuk meminta foto. Niat saya mengenalkan Bening pada legenda Srimulat kandas bocah itu lebih tertarik pada penjual mainan yang lewat.
Baca Juga; Tuhan, Mengapa Aku Warga Konoha
Namun saya kembali ke warung dengan satu keberuntungan kecil: para kru Kirun datang bergantian memesan kopi. Dua cangkir untuk Kadir dan satu untuk laki-laki bermasker itu. Ada jarak seukuran lengan ketika saya menyodorkan gelas. Cukup dekat untuk menyapa. Cukup dekat untuk mengenali cincin-cincin akik di jarinya.
“Ternyata njenengan Mbak Tessi… sehat, mbak?”
Kaget bukan hanya yang saya sapa, tapi juga Kadir yang duduk di sebelahnya.
Ketika suasana mulai surut dan Kirun memasuki GOR, saya memberanikan diri duduk di antara mereka. Tanpa diusir, tanpa disela. Padahal sebelumnya permintaan wawancara saya ditolak. Namun begitulah para seniman panggung ada batas yang tak bisa ditembus kamera, tapi bisa dilewati percakapan yang hangat.
Candaan pertama datang dari Kadir. Dengan logat Madura yang khas: “Lho kok iso ngerti iki Tessi mung ndelok drijine nganggo akik? Bukane iki Gus Miftah?”
Saya membalas: “Lho, Gus Miftah niku niru Mbak Tessi kok!” Ingatan yang Mengembalikan Suara
Pertanyaan pertama saya sederhana namun menukik: “Kalau Srimulat lahir kembali hari ini, kira-kira apa yang akan dilakukan?”
Baca Juga; Sungkeman: Bid'ah Cinta Dari Jawa
Ia membuka sedikit maskernya. “Lha orang-orangnya sudah tidak ada lagi, mbak…” Ucapan itu menggulung ingatan saya pada layar televisi hitam putih, pada Kadir yang ceplas-ceplos, pada Tessi yang sering jadi bulan-bulanan, pada kostum njawani dan musik pengiring yang memadukan tradisi dengan kelakar.
Ketika saya bertanya tentang kondisi komedi sekarang tentang panggung, tentang tradisi lokal, tentang kelokalan yang dulu begitu khas Tessi berkata: “Anak-anak muda sekarang banyak yang kuliahan. Mereka lebih pinter mengolah teknik pemaduan seni budaya lokal dan modern di panggung manapun!”
Dari Srimulat ke Stand-Up, Dari Ketoprak ke Konten: Panggung yang Bergeser Pertemuan singkat itu menyadarkan saya pada sesuatu: kita sedang menyaksikan masa transisi kebudayaan pertunjukan. Dulu, komedi adalah panggung kolektif ada musik, tata kostum, disiplin teater tradisional. Humor adalah ritme, bukan punchline.
Sekarang komedi menjadi ruang individual: stand-up, konten pendek, video satu menit. Meski teknik berkembang, ada kelokalan yang ikut hilang kesadaran bahwa tawa adalah bagian dari identitas budaya. Warung, Kopi, dan Panggung yang menjadi saksi warung kecil di belakang GOR Bahurekso hari itu menjadi panggung lain. Tempat legenda peralihan zaman menyeruput kopi hitam sambil menunggu giliran naik podium. Dan mungkin benar, seperti kata Tessi: generasi sekarang lebih terdidik dan teknis. Namun ada sesuatu yang tak tergantikan dari generasi mereka ketulusan membuat orang tertawa tanpa kehilangan akar budaya. Mungkin bukan Srimulat yang harus lahir kembali. Mungkin kita yang perlu belajar tertawa dengan cara yang lebih manusiawi
Penulis; Emma Wijaya
Editor; Danang Afi

0 Komentar