Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Intelektual Muda NU Kendal Tulis Buku Politik Kebangsaan Ala Aswaja, KH. Muh. Mustamsikin: Bisa menjadi rujukan penting bagi gerak NU masa kini

KENDAL, inspiratif.online – Geliat pemikiran kebangsaan di tubuh Nahdlatul Ulama mendapat ruang baru dengan terbitnya buku “Politik Kebangsaan Ala Ahlussunah Wal Jama'ah: Perspektif Pemikiran KH Mohammad Danial Rayyan” karya intelektual muda NU Kendal, M. Irhamni Sabil. Buku yang diluncurkan dalam forum besar di Ballroom Bank Nusamba Cepiring, Ahad (7/12/2025), ini menjadi magnet perhatian ratusan kader NU dari berbagai tingkatan.

Peluncuran tersebut bukan sekadar acara seremonial. Hadirnya buku ini memunculkan kembali percakapan besar tentang bagaimana NU meletakkan peran kebangsaannya di tengah dinamika politik nasional yang kian kompleks. Di titik inilah, sosok Irhamni Sabil menjadi figur utama.

Dengan latar akademik dan keterlibatan aktif di berbagai kegiatan intelektual NU, Sabil menawarkan analisis politik kebangsaan yang bersumber dari pemikiran tokoh besar NU Kendal, KH Mohammad Danial Rayyan, namun dikontekstualisasikan bagi generasi NU hari ini.

Karya ini membuatnya menjadi salah satu penulis muda NU yang mulai diperhitungkan.

Ketua PCNU Kendal, KH Mukh Mustamsikin, menegaskan bahwa buku ini bukan hanya karya literatur, tetapi pijakan pemikiran. Menurutnya, Sabil menghadirkan bukan sekadar kajian, melainkan arah gerak.

“Buku ini sangat penting. Saya berharap seluruh pengurus NU di semua level kepemimpinan memiliki dan membacanya sebagai pijakan gerak NU dalam berpolitik,” tegas KH Mustamsikin di hadapan peserta.

Pernyataan ini menjadi sinyal kuat bahwa buku tersebut dipandang strategis bagi struktur NU, terutama dalam meneguhkan kembali politik kebangsaan ala Ahlussunah wal Jama’ah, politik yang berjangkar pada etika, keadaban, dan orientasi kemaslahatan.

KH Mustamsikin juga menyampaikan apresiasi kepada Lakpesdam PCNU Kendal yang telah menerbitkan karya tersebut. Ia menilai Lakpesdam berperan penting sebagai rumah kajian intelektual yang mampu memfasilitasi lahirnya pemikiran-pemikiran progresif dari kader muda NU.

Acara peluncuran buku tersebut dihadiri tokoh-tokoh penting, antara lain Rais Syuriah PCNU Kendal KH Masykur Amin, perwakilan Forkopimda, KPU, Bawaslu, BAZNAS, dan MUI Kendal.

Kehadiran sekitar 100 peserta dari MWC NU dan Lakpesdam tingkat MWC se-Kabupaten Kendal menambah bobot acara.

Sebagai penulis, Irhamni Sabil tidak hanya hadir secara simbolis, tetapi tampil sebagai narasumber utama. Dalam pemaparannya, Sabil menjelaskan motivasi dan gagasan besar di balik penyusunan buku ini.

Ia memaparkan bahwa politik kebangsaan Aswaja merupakan tradisi panjang yang perlu terus dirawat dan dipahami kembali.

Menurut Sabil, pemikiran KH Mohammad Danial Rayyan menjadi basis penting karena mewakili tradisi moderat NU Kendal yang dekat dengan masyarakat, tetapi tetap teguh dalam prinsip-prinsip kenegaraan.

“Pemikiran KH Danial Rayyan adalah representasi dari politik kebangsaan NU yang tidak pragmatis, tidak elitis, tapi berpihak pada keadaban. Saya merasa generasi muda NU perlu membacanya kembali,” ujarnya dalam diskusi.

Ia menambahkan, penulisan buku ini merupakan ikhtiar kecil agar jejak pemikiran para kiai, terutama yang berasal dari daerah, tidak hilang tertelan zaman. 

Baginya, khazanah pemikiran lokal sering kali menyimpan fondasi kuat bagi kerja-kerja besar NU dalam konteks nasional.

Diskusi buku semakin hangat dengan hadirnya dua narasumber pendamping: Prof. Dr. Mudjahirin Tohir, Guru Besar Antropologi UNDIP, dan Dr. Ali Martin, Dekan FISIP Unwahas. Keduanya mengurai gagasan Sabil dari perspektif keilmuan yang lebih luas.

Prof Mudjahirin menyoroti kemampuan Sabil mendudukkan pemikiran kiai kampung dalam konteks politik kebangsaan modern.

Sementara Dr Ali Martin menekankan pentingnya karya seperti ini untuk meneguhkan peran NU sebagai kekuatan civil society yang sehat.

Ketua Lakpesdam PCNU Kendal, Ahmad Supari, menggarisbawahi bahwa penerbitan buku ini merupakan bagian dari program kerja lembaga dalam memperkuat literasi Aswaja dan wawasan kebangsaan.

“Mas Sabil menawarkan naskah ini kepada kami. Karena sesuai program kerja dan kualitas naskahnya sangat baik, kami mengapresiasi dan menerbitkannya atas nama Lakpesdam,” jelasnya.

Menurut Supari, Lakpesdam memang terus mendorong kader muda NU untuk berkarya melalui tulisan, sehingga tradisi intelektual NU tidak mengendur di tengah derasnya arus informasi digital.

Lebih jauh, ia menyebut buku ini sebagai contoh ideal kolaborasi antara intelektual muda dan lembaga resmi NU, sehingga karya-karya serupa diharapkan terus bermunculan.

Ia juga menegaskan bahwa Lakpesdam siap mendukung penelitian, penulisan, hingga publikasi yang berorientasi pada penguatan akidah Ahlussunah wal Jama'ah dan komitmen kebangsaan.

Pada akhir acara, para peserta menyatakan antusiasme tinggi terhadap buku tersebut. Banyak yang menilai bahwa karya Irhamni Sabil tidak hanya memperkaya khasanah literatur NU, tetapi juga mampu memberi arah baru terhadap cara memahami politik kebangsaan yang lebih substantif.

Bagi sebagian kader muda, buku ini menjadi ruang meneguhkan identitas politik NU yang berbasis nilai, bukan sekadar kepentingan elektoral.

Bagi para pengurus NU, buku ini adalah alarm untuk kembali merawat tradisi pemikiran kiai, terutama dalam konteks tantangan demokrasi kontemporer.

Irhamni Sabil, lewat buku ini, menempatkan dirinya dalam barisan intelektual muda NU yang tidak hanya kritis, tetapi juga peduli pada kelestarian tradisi intelektual Nahdlatul Ulama.

Karya ini menjadi bukti bahwa Kendal tidak kehabisan kader penulis, dan bahwa pemikiran kiai-kiai daerah memiliki kontribusi besar bagi wacana kebangsaan nasional.***

Posting Komentar

0 Komentar